Mapala Nayottama
  • Home
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

 

Foto: semua yang telah hadir dan mengikuti acara sampai selesai melakukan foto bersama setelah selesai acara.


Kediri, 30 Mei 2026
- telah dilaksanakan kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang pembelajaran, refleksi, serta diskusi kritis mengenai berbagai isu sosial, lingkungan, dan hak-hak masyarakat adat yang diangkat dalam film tersebut.

Film Pesta Babi merupakan film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat adat Papua di tengah berbagai proyek pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam. Film ini berdurasi sekitar 95 menit dan mulai diperkenalkan kepada publik pada tahun 2026.


Latar Belakang Kegiatan

Film Pesta Babi menjadi perhatian masyarakat karena menyoroti berbagai persoalan yang terjadi di Papua, khususnya terkait perubahan fungsi hutan, konflik agraria, dampak proyek pembangunan skala besar, serta kehidupan masyarakat adat yang terdampak oleh berbagai kebijakan pembangunan. Film ini mendorong masyarakat untuk melihat secara lebih dekat kondisi sosial dan lingkungan yang terjadi di wilayah tersebut.

Melalui kegiatan nobar dan diskusi, peserta diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu memahami pesan yang disampaikan serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu-isu sosial yang terjadi di Indonesia.


Jalannya Kegiatan

Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh panitia yang menjelaskan tujuan pelaksanaan nobar dan diskusi. Selanjutnya dilakukan pemutaran film Pesta Babi yang berlangsung dengan penuh perhatian dari para peserta.

Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam sesi ini peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tanggapan, pertanyaan, maupun refleksi terhadap isi film. Diskusi berlangsung secara interaktif dan menghasilkan berbagai perspektif mengenai isu lingkungan, pembangunan, hak masyarakat adat, serta pentingnya kebebasan berekspresi dalam masyarakat demokratis.

Foto: Rosita Anggraini,selaku ketua umum menyerahkan sertifikat kegiatan nobar dan diskusi film.

Hasil dan Pembahasan

Dari hasil diskusi, terdapat beberapa poin penting yang menjadi perhatian peserta, antara lain:

  1. Pentingnya menjaga kelestarian lingkungan

    Film menunjukkan bagaimana perubahan fungsi hutan dapat memberikan dampak terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya alam.

  2. Perlindungan hak masyarakat adat

    Peserta menilai bahwa masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan tanah, budaya, dan cara hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun.

  3. Dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal

    Diskusi menyoroti perlunya pembangunan yang memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan agar tidak merugikan kelompok masyarakat tertentu.

  4. Pentingnya ruang diskusi publik
    Film dokumenter dapat menjadi sarana pendidikan yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang sering kali kurang mendapat perhatian.

Manfaat Kegiatan

Kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi memberikan beberapa manfaat, yaitu:

  • Menambah wawasan peserta mengenai isu sosial dan lingkungan.
  • Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
  • Menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup.
  • Mendorong budaya diskusi yang sehat dan konstruktif.
  • Menjadi sarana edukasi melalui media film dokumenter.

Kesimpulan

Kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi pada tanggal 30 Mei 2026 merupakan kegiatan yang memberikan nilai edukatif dan reflektif bagi peserta. Melalui film dan diskusi yang dilakukan, peserta memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai persoalan lingkungan, hak masyarakat adat, dan dampak pembangunan terhadap kehidupan sosial masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa film dokumenter dapat menjadi media pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kesadaran sosial serta mendorong terciptanya dialog yang kritis dan konstruktif.

Daftar Pustaka

  1. TribunnewsWiki. (2026). Film Pesta Babi (2026).
  2. Suara.com. (2026). Film Pesta Babi Tayang Kapan? Jadwal Nobar Disebar Mendadak.
  3. Bisnisia.id. (2026). Film Pesta Babi Viral, 7 Fakta Kontroversi, Sinopsis, dan Cara Nonton.
  4. DutaJatim.com. (2026). Nobar Film Pesta Babi di Sejumlah Daerah Dibubarkan, Mengapa?
*** 
Scriptwriter: Serayu
Editor: Medono

 

Foto : Beberapa Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Nayottama sedang melakukan pemanasan.


KEDIRI– Universitas Pawyatan Daha Kediri sukses menggelar puncak perayaan Dies Natalis yang ke-49 pada Minggu, 24 Mei 2026. Mengusung tema besar "Semarakartha Daha", perayaan tahun ini berlangsung meriah dengan memadukan esensi akademis, pelestarian budaya lokal, serta panggung kreativitas mahasiswa. Perayaan hari lahir kampus tercinta ini menjadi momentum refleksi sekaligus pembuktian eksistensi Universitas Pawyatan Daha sebagai salah satu perguruan tinggi penopang pendidikan tinggi berkualitas di Kota Kediri.


Menolak Lupa Akar Sejarah Kediri

Rangkaian acara yang memuncak pada 24 Mei ini dihadiri oleh jajaran rektorat, yayasan, dosen, alumni, serta ratusan mahasiswa yang memadati area kampus. Suasana sakral dan kegembiraan berbaur menjadi satu sejak pagi hari.

Pemilihan nama "Smarakatha Daha" atau "Semarak Artha Daha" sendiri bukan tanpa alasan. Nama ini mencerminkan semangat yang menyala untuk membawa kejayaan bagi universitas, sekaligus penghormatan mendalam terhadap bumi "Daha" (Kediri) yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Perayaan ini menegaskan komitmen kampus untuk terus melahirkan generasi unggul yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan peduli pada kearifan lokal.

Rangkaian Kegiatan dan Panggung Kreativitas

Kemeriahan Dies Natalis ke-49 ini diisi dengan berbagai agenda menarik yang melibatkan seluruh sivitas akademika:

  • Upacara Khidmat & Pemotongan Tumpeng: Sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan hampir setengah abad membina generasi bangsa, dilakukan prosesi pemotongan tumpeng oleh Rektor Universitas Pawyatan Daha.
  • Orasi Ilmiah: Refleksi pencapaian kampus dalam bidang tri dharma perguruan tinggi serta arah strategis universitas menuju usia emas (50 tahun) di tahun depan.
  • Pentas Seni & Budaya Mahasiswa: Panggung "Smarakatha Daha 49" menjadi saksi bakat luar biasa mahasiswa. Mulai dari pertunjukan musik bergaya modern, tari tradisional yang memukau, hingga unjuk kreativitas dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
  • Pameran kerajinan barang : Stan-stan kreatif mahasiswa ikut mewarnai festival, memamerkan berbagai produk kerajinan tangan hasil inovasi mandiri.

Menuju Usia Emas dengan Optimisme

Dies natalis kali ini dipandang sangat strategis karena menjadi gerbang penentu menuju usia emas (49 tahun) Universitas Pawyatan Daha. Dalam sambutannya, pihak rektorat menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen kampus yang terus konsisten berinovasi dan menjaga mutu pendidikan.

Dengan suksesnya gelaran "Semarak Artha Daha 49", Universitas Pawyatan Daha tidak hanya merayakan bertambahnya usia, tetapi juga meneguhkan kembali komitmennya untuk terus menjadi agent of change yang membawa dampak positif bagi masyarakat Kediri dan Indonesia.

Selamat Hari Jadi ke-49, Universitas Pawyatan Daha!

*** 

Scriptwriter: Serayu
Editor : Medono



Foto : Semua anggota yang hadir melakukan foto bersama setelah selesai acara.

Musyawarah Anggota (MUSANG) merupakan momentum tertinggi dalam kedaulatan sebuah organisasi. Pada tanggal 25-26 April 2026, keluarga besar Mapala Nayottama telah sukses menyelenggarakan agenda tahunan ini dengan khidmat dan penuh dinamika dialektika.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan ajang penentu arah gerak organisasi untuk satu periode ke depan. Berlokasi di titik temu gagasan, seluruh anggota berkumpul untuk mengevaluasi, merumuskan, dan menetapkan landasan fundamental perjuangan organisasi.

Menyusun Fondasi Melalui Sidang Pleno

Fokus utama dalam Musyawarah Anggota kali ini adalah penguatan konstitusi dan tata kelola internal. Terdapat lima poin krusial yang menjadi pembahasan utama dalam persidangan:

  • AD/ART (Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga) : Peninjauan kembali aturan dasar guna memastikan organisasi tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan marwah Mapala.

  • GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) : Perumusan strategi jangka panjang mengenai arah gerak Mapala Nayottama dalam kancah pecinta alam dan pengabdian masyarakat.

  • GBPKK (Garis Besar Program Kerja Kepengurusan) : Penyusunan draf program kerja yang aplikatif, inovatif, dan berdampak nyata bagi anggota maupun lingkungan.

  • PO (Peraturan Organisasi) : Sinkronisasi aturan teknis administratif agar roda organisasi berjalan lebih efektif dan efisien.

  • Rekomendasi : Pengumpulan aspirasi dan masukan strategis dari anggota sebagai mandat yang harus dijalankan oleh kepengurusan selanjutnya.

Fajar Baru: Terpilihnya Ketua Umum Baru


Foto : Sebelah kiri ketua umum periode sebelumnya menyerahkan bendera kepada Ketua Umum Terpilih Serayu

Setelah melalui proses musyawarah yang cukup panjang dan demokratis, puncak acara ditandai dengan pemilihan Ketua Umum Mapala Nayottama untuk periode mendatang.

Berdasarkan hasil kesepakatan forum, Rosita Aggraini yang akrab dengan nama lapangan Serayu, resmi terpilih sebagai nahkoda baru Mapala Nayottama. Terpilihnya Serayu membawa harapan segar bagi seluruh anggota. Dengan latar belakang dedikasi yang kuat, ia diharapkan mampu membawa organisasi terbang lebih tinggi dan tetap membumi dalam setiap aksi lingkungan.

Harapan untuk Hari Esok

Selesainya Musyawarah Anggota ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan yang sesungguhnya. Estafet kepemimpinan telah berpindah, dan dokumen organisasi telah diperbarui. Kini saatnya seluruh elemen Mapala Nayottama merapatkan barisan untuk mendukung visi dan misi yang telah disepakati bersama.

"Musyawarah ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan refleksi bersama untuk memperkokoh pondasi organisasi. Dengan selesainya pembahasan AD/ART, GBHO, dan PO ini, kita memiliki kompas yang jelas untuk melangkah lebih jauh," ujar perwakilan pimpinan sidang.

Selamat bertugas kepada Ketua Umum terpilih, Rosita "Serayu" Aggraini. Semoga amanah ini dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi kejayaan Mapala Nayottama.


Lestari!

Foto : oleh Magda Ehlers dari Pexels

Pernah terpikir nggak, kenapa setiap kali buka profil atau konten kita, mata langsung disambut dengan nuansa Ungu yang dominan? Bukan cuma soal estetika atau "biar kelihatan lucu" aja, lho. Ada alasan filosofis yang dalam di balik pemilihan warna ini.

Warna bukan sekadar hiasan; ia adalah bahasa visual yang berbicara sebelum kita sempat membaca teksnya. Yuk, kita bedah rahasia di balik palet warna kita!

1. Ungu: Sang "Nayottama" (Kebijaksanaan)

Warna utama kita adalah ungu. Dalam psikologi warna, ungu sering dikaitkan dengan spiritualitas dan kemewahan. Namun bagi kita, ungu adalah representasi dari kata Nayottama.

Apa itu Nayottama? Dalam bahasa Sanskerta, Nayottama berarti "Kebijaksanaan yang Unggul". Kami ingin setiap konten yang dibagikan bukan sekadar lewat, tapi membawa nilai, edukasi, dan sudut pandang yang bijak bagi siapa pun yang melihatnya.

2. Aksen Kuning: Percikan Inspirasi & Kehangatan

Kalau kamu perhatikan, ada sentuhan warna kuning yang menyelip di antara dominasi ungu. Kuning adalah simbol dari matahari dan energi.

  • Inspirasi: Kami ingin menjadi pemantik ide-ide baru buat kamu.
  • Hangat: Meski kita bicara soal "kebijaksanaan yang unggul", kami ingin tetap terasa dekat dan bersahabat seperti obrolan di warung kopi.

3. Hitam: Fondasi Kekuatan & Elegan

Sebagai pelengkap, warna hitam hadir untuk memberikan struktur. Hitam melambangkan Kekuatan (Power) dan Elegan. Ini adalah janji kami untuk tetap profesional, berwibawa, dan memiliki dasar yang kuat dalam setiap informasi yang disajikan.


Kesimpulannya: Perpaduan warna ini adalah doa dan visi kami. Kami ingin menjadi wadah yang bijaksana (Ungu), penuh inspirasi yang hangat (Kuning), namun tetap memiliki karakter yang kuat dan elegan (Hitam).

Jadi, setiap kali kamu melihat warna-warna ini di feed kamu, ingatlah bahwa ada semangat "Nayottama" yang sedang kami bagikan.

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur

Foto : Panitia sedang berbagi takjil kepada beberapa pengguna jalan 

Kediri, 08 Maret 2026 - 
Semangat berbagi di bulan suci terpancar nyata di depan gerbang Universitas Pawyatan Daha (UPD) Kediri sore tadi. Keluarga besar Mapala Nayottama turun ke jalan untuk menggelar aksi bagi-bagi takjil gratis bagi masyarakat dan pengguna jalan.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB ini menyasar para pengendara dan warga yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba. Senyum ramah para anggota Mapala menyambut setiap warga yang melintas, menciptakan suasana sejuk di tengah hiruk-pikuk jalanan sore.

Mempererat Silaturahmi, Memperkuat Kerukunan

Foto :
 Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Foto Bersama dengan Pembina
 

Bagi Mapala Nayottama, aksi sosial ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah wadah untuk mempererat tali silaturahmi dan menciptakan kerukunan antar anggota.

"Kegiatan ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, sekaligus menjadi momen untuk memperkuat nilai kebersamaan di internal organisasi," ujar perwakilan panitia.

Hangatnya Buka Bersama Lintas Generasi

Setelah aksi di jalanan usai, rangkaian acara berlanjut dengan buka puasa bersama yang dihadiri oleh anggota aktif serta Pembina organisasi. Suasana berlangsung hangat dan penuh tawa, sebelum akhirnya seluruh anggota melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Baiturrahman.

Melalui kegiatan ini, Mapala Nayottama berharap semangat ibadah dan kepedulian sosial di bulan Ramadhan semakin meningkat. Bukan hanya sekadar organisasi pencinta alam, aksi hari ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap sesama manusia adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri seorang pencinta alam.

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur
Foto : Angkatan Kalpataru dan beberapa anggota Mapala Nayottama


Kediri, 07 Februari 2026 - Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga besar Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Nayottama. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, mereka baru saja menggelar acara tasyakuran untuk meresmikan angkatan ke-5 yang diberi nama Kalpataru.

Nama "Kalpataru" sendiri bukan sekadar identitas, melainkan simbol pohon kehidupan yang melambangkan pengharapan akan kelestarian alam dan kekuatan yang mengakar. Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk puji syukur atas segala karunia Tuhan yang telah menyertai perjalanan organisasi hingga lahirnya generasi terbaru.

Prosesi Potong Tumpeng dan Doa Bersama

Kegiatan dimulai setelah waktu Magrib dan berlangsung hingga pukul 21.00 WIB. Acara inti diisi dengan doa bersama yang diikuti dengan khidmat oleh seluruh peserta. Sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur, dilakukan pula prosesi potong tumpeng yang menjadi tradisi khas dalam merayakan momen penting.

"Kegiatan ini adalah bentuk syukur kami terhadap lingkungan dan karunia Tuhan yang sudah diberikan, serta sebagai ucapan telah lahirnya angkatan kami, Angkatan Kalpataru," ungkap Agung Romadhon selaku Ketua Pelaksana acara tersebut.

 

Mempererat Ikatan Lintas Generasi

Tasyakuran ini tidak hanya dihadiri oleh anggota aktif, tetapi juga menjadi ajang temu kangen bagi para alumni Mapala Nayottama. Kehadiran para senior memberikan warna tersendiri, di mana pengalaman masa lalu bertemu dengan semangat anggota baru.

Kehadiran alumni membuktikan bahwa ikatan persaudaraan di Mapala Nayottama tidak terbatas pada masa pendidikan saja, melainkan terus tumbuh dan terjaga selamanya.

Makna di Balik Nama Kalpataru

Bagi Mapala Nayottama, lahirnya angkatan ke-5 ini diharapkan membawa energi baru dalam upaya pelestarian alam dan pengembangan karakter mahasiswa. Sesuai dengan namanya, Angkatan Kalpataru diharapkan dapat menjadi sosok yang tangguh, memberikan manfaat bagi sekitarnya, dan selalu menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.

Selamat datang dan selamat berproses untuk Angkatan Kalpataru! Semoga semangat syukur ini menjadi bahan bakar untuk pengabdian-pengabdian selanjutnya bagi lingkungan dan bangsa.

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur
Foto : Anggota Muda dan Beberapa Panitia Diklatsar V

KEDIRI – Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Nayottama Universitas Pawyatan Daha (UPD) sukses menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) ke-V. Rangkaian kegiatan ini terbagi dalam dua tahap krusial: pendalaman materi di dalam ruang serta uji nyali dan mental di medan terbuka.

Tahap Awal: Fondasi Teoritis di Diklat Ruang

Perjalanan dimulai pada 21 Desember 2025 melalui Diklat Ruang yang berpusat di Sekretariat Mapala Nayottama. Dalam tahap ini, peserta dibekali ilmu mendalam dengan menghadirkan pemateri ahli dari BPBD Kabupaten Kediri, Mapala Reksa Buana, dan Mahaspala.

Materi yang diserap meliputi kurikulum wajib Calon Anggota Muda, yakni:

  • Survival & Navigasi Darat
  • Rock Climbing
  • Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)
  • Keorganisasian & Kepemimpinan

Ketua Umum Mapala Nayottama, Fiki Obrian, menegaskan komitmennya untuk menjadikan organisasi ini sebagai wadah belajar yang inklusif. "Kami ingin Mapala Nayottama menjadi tempat bagi anggota untuk saling belajar dalam organisasi yang terbuka," ujarnya.

Uji Mental di Pegunungan Wilis

Puncak dari rangkaian Diklatsar berlangsung pada 3-4 Januari 2026 di Pegunungan Wilis. Sebanyak 8 peserta tangguh (7 laki-laki dan 1 perempuan) terjun langsung untuk mempraktikkan teori yang telah didapat.

Meski jumlah peserta mengalami penyusutan karena kendala pekerjaan mengingat mayoritas Mahasiswa Universitas Pawyatan Daha adalah pekerja panitia tetap konsisten menjalankan agenda lapangan.

"Banyak yang mengundurkan diri karena tidak bisa mengambil cuti kerja. Namun, kami tetap melangkah maju guna melatih fisik, mental, serta solidaritas anggota," jelas Binti Laifatul, Ketua Panitia Diklatsar ke-V.

Daftar Lulusan Diklatsar ke-V (Angkatan Muda)

Setelah melalui gemblengan fisik dan mental yang luar biasa, berikut adalah delapan pendekar rimba baru yang resmi dinyatakan lulus dengan nama rimba masing-masing:

  • M. Bima Nusantara       (Randu)
  • Evi Elisa Cahyanti         (Cemara)
  • M. Agung Romadhon    (Waru)
  • Markus Van Floci           (Ulin)
  • Ade Rizqy Fitrahillah      (Karet)
  • Suryana Ibrahim             (Sengon)
  • Dimas Wahyu Hadi W.   (Jati)
  • Azriel Rajendra A.          (Pinus)

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur


Foto : Penyampaian Materi Survival dari Mahaspala kepada Anggota Muda
Foto : Doa bersama anggota Mahasiswa Pencinta Alam Nayottama dan Calon Anggota

Kediri, 23 November 2025 — Angka empat mungkin terlihat kecil dalam hitungan dekade, namun bagi Unit Kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Nayottama, empat tahun adalah deretan cerita tentang ketangguhan, persaudaraan, dan dedikasi yang tak ternilai.

Tepat pada hari ini, Mapala Nayottama merayakan hari jadinya yang ke-4 dengan mengusung tema yang sarat makna: "4 Tahun: Milestone Kecil Mimpi Besar". Perayaan ini bukan sekadar seremoni tiup lilin, melainkan sebuah ruang refleksi atas segala suka dan duka yang telah dilalui bersama di bawah panji Nayottama.

Menoleh Kebelakang, Melangkah Kedepan

Perjalanan selama empat tahun ini diibaratkan sebagai pendakian tahap awal. Kita telah melewati berbagai medan, mulai dari jalur landai yang menyenangkan hingga tanjakan terjal yang menguji mental.

Empat tahun adalah momentum penting bagi kami untuk merefleksi dan berbenah. Kami tidak hanya fokus pada petualangan, tetapi juga pada tanggung jawab kami sebagai kaum muda terhadap lingkungan dan sesama," ujar perwakilan Mapala Nayottama.

Tema tahun ini menekankan bahwa setiap pencapaian sekecil apa pun adalah batu pijakan (milestone) untuk mewujudkan visi yang lebih besar di masa depan. Nayottama ingin membuktikan bahwa menjadi pencinta alam bukan hanya soal menaklukkan puncak gunung, tapi tentang bagaimana memberikan dampak nyata bagi bumi dan masyarakat.

Lebih dari Sekadar Petualangan

Di usia yang ke-4 ini, Mapala Nayottama menegaskan kembali komitmennya sebagai wadah pembentuk karakter. Ada tiga pilar utama yang terus dijaga:
  • Karakter Tangguh: Mencetak pribadi yang tidak mudah menyerah di tengah tekanan.
  • Kepedulian Lingkungan: Menjadi garda terdepan dalam aksi pelestarian alam.
  • Kontribusi Nyata: Hadir sebagai solusi bagi persoalan sosial dan kemanusiaan.

Harapan di Masa Depan

Perayaan ulang tahun ini menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang. Dengan semangat kekeluargaan yang erat, Mapala Nayottama berharap kehadirannya semakin dirasakan manfaatnya, baik di lingkungan kampus maupun secara nasional.

"Kami berharap di tahun-tahun mendatang, peran Mapala Nayottama semakin terasa dampaknya bagi bangsa," tambahnya dengan penuh optimis.

Selamat Ulang Tahun ke-4, Mapala Nayottama! Teruslah mendaki, teruslah peduli, dan mari ubah mimpi besar itu menjadi nyata.

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur
Foto : Anggota Nayottama dengan Calon Anggota Mahasiswa Pencinta Alam Nayottama.

Kediri, Oktober 2025 — Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, "Di gunung kita belajar tentang diri sendiri, namun di api unggun kita belajar tentang arti saudara." Semangat itulah yang menyelimuti kegiatan Malam Keakraban (Makrab) Mapala Nayottama yang digelar pada 25-26 Oktober 2025 lalu.

Bertempat di Wisata Bale Kambang Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kediri, kegiatan ini menjadi agenda perdana bagi para calon anggota baru pasca-Open Rekrutmen. Dengan tema "Merajut Keakraban Menumbuhkan Persaudaraan", Makrab tahun ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan langkah awal membangun fondasi keluarga yang kokoh.

Sabtu, 25 Oktober: Hangatnya Api Unggun di Tengah Angin Malam

Perjalanan dimulai dari Sekretariat Mapala Nayottama pada sore hari. Setelah doa bersama, tim menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam menuju dataran tinggi Besuki. Setibanya di lokasi, kerja sama tim langsung diuji saat membangun tenda di bawah langit yang mulai mendung.

Malam harinya, suasana berubah menjadi sangat syahdu. Di tengah hembusan angin malam yang dingin, api unggun dinyalakan. Beralaskan tikar dan ditemani aroma masakan hasil olahan bersama, para anggota mulai bersenandung.

"Inilah momen penting bagi kami untuk membangun komitmen. Di sini, komunikasi dan empati antaranggota mulai tumbuh secara alami," ungkap salah satu peserta.

Sesi berbagi pengalaman dan perkenalan menjadi menu utama malam itu. Anggota aktif, alumni, hingga calon anggota baru saling melempar cerita, menciptakan jembatan komunikasi yang efektif demi solidnya organisasi ke depan.

Minggu, 26 Oktober: Sinergi dalam Tawa dan Langkah Bersama

Pagi di Bale Kambang menyapa dengan langit yang cerah. Energi peserta kembali diisi dengan senam pagi dan berbagai games kelompok. Meski sederhana, tawa pecah di sela-sela permainan, meruntuhkan sekat antara senior, alumni, dan anggota baru.

Kebersamaan ini ditutup dengan makan bersama di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sebelum akhirnya seluruh peserta mengabadikan momen melalui foto bersama sebagai simbol komitmen menjaga persaudaraan.

Lebih dari Sekadar Organisasi, Ini Adalah Keluarga

Kegiatan yang diikuti oleh 17 peserta (terdiri dari anggota aktif, alumni, dan calon anggota) ini berlangsung sukses tanpa kendala berarti. Hambatan-hambatan kecil di lapangan diselesaikan dengan gotong royong, yang justru semakin memperkuat rasa kekeluargaan.

Makrab di Wisata Bale Kambang ini telah berhasil meletakkan batu pertama untuk pondasi organisasi yang lebih kuat. Dengan rasa nyaman dan kepercayaan yang telah terbangun, Mapala Nayottama siap menghadapi tantangan petualangan dan kontribusi lingkungan di masa mendatang.

Terima kasih kepada seluruh panitia, alumni, dan peserta yang telah berkontribusi!
Sampai jumpa di pendakian dan aksi nyata selanjutnya! 🌿🍀

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur

Foto : Sesi Sharing dan Ngobrol Santai antara Calon Anggota dengan Anggota Mapala Nayottama


Kediri, 2025 - Apakah kamu hobi lari? Atau sedang mencari motivasi untuk mulai hidup sehat? Bagaimana jika setiap tetes keringatmu bisa berubah menjadi sebuah pohon yang menghijaukan bumi?

Mapala Nayottama Universitas Pawyatan Daha Kediri kembali menghadirkan terobosan baru melalui Nayottama Green Run 2025. Dengan slogan yang menggugah, “Ready to Run, Ready to Go Green”, kegiatan ini membuktikan bahwa olahraga dan aksi lingkungan bisa berjalan dalam satu irama.

Inovasi Lari Berbasis Lingkungan

Berbeda dengan ajang lari biasa, Nayottama Green Run menggabungkan teknologi dan aksi nyata melalui dua rangkaian utama:

1. Virtual Run Challenge (16 September – 5 Oktober 2025)
Kamu bisa berlari di mana saja dan kapan saja! Tantang dirimu untuk menempuh jarak minimal 5 kilometer. Menariknya, setiap pencapaian jarak tersebut akan dikonversikan menjadi 1 bibit pohon.
  • Aplikasi: Menggunakan Strava untuk pencatatan data.
  • Ketentuan: Kecepatan maksimal pace 5 (tanpa batas minimal, jadi kamu boleh lari santai maupun jalan cepat).
  • Misi: Semakin jauh kamu melangkah, semakin banyak pohon yang akan kamu "sumbangkan" untuk bumi.
2. Aksi Tanam Pohon (12 Oktober 2025)
Keringatmu akan berubah menjadi akar. Hasil akumulasi jarak dari seluruh peserta Virtual Run akan diwujudkan dalam aksi nyata penanaman bibit pohon yang berlokasi di lingkungan Universitas Pawyatan Daha Kediri. Ini adalah momen di mana komunitas pelari bertemu untuk menghijaukan kampus tercinta.

Hadiah Spesial Bagi Sang Pejuang Jarak

Bagi kamu yang memiliki determinasi tinggi, panitia telah menyiapkan apresiasi khusus. Tersedia hadiah menarik bagi tiga peserta terbaik yang berhasil mengumpulkan akumulasi jarak lari terjauh selama periode kegiatan. Siapkan sepatu lari terbaikmu dan jadilah pemimpin di papan peringkat!

Mengapa Kamu Harus Ikut?

Nayottama Green Run 2025 bukan sekadar ajang mencari keringat. Ini adalah bentuk edukasi bahwa gaya hidup sehat seharusnya berbanding lurus dengan kesehatan planet kita. Melalui kegiatan ini, kita belajar bahwa menjaga kelestarian lingkungan bisa dilakukan dengan cara yang seru dan kompetitif.

"Setiap langkahmu adalah nafas baru bagi bumi."

***


Scriptwriter : Serayu

Editor : Katur 


Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan Inagurasi dengan Mahasiswa Baru Universitas Pawyatan Daha Kediri

Kediri, 14 September 2025 — Suasana kampus hari Minggu ini terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa baru yang mencari jati diri di dunia perkuliahan, Mapala Nayottama hadir membawa warna petualangan yang tak terlupakan dalam agenda Pengenalan UKM.

Bukan sekadar presentasi di dalam kelas, Mapala Nayottama punya cara unik untuk menyapa para maba: Flying Fox!

"Pemanis" di Udara dan Jejak Digital

Ketua Umum Mapala Nayottama, Fiki Obrian Atma, menyebutkan bahwa kegiatan tahun ini adalah salah satu yang paling seru.

"Kami memasang beberapa 'penarik manis' untuk mahasiswa baru, yaitu flying fox. Ini adalah bentuk pengenalan agar mereka tahu bahwa Mapala itu seru! Kami juga menjelaskan bahwa kegiatan kami tidak hanya berfokus pada pendakian atau pelestarian alam saja," jelas Fiki.

Selain aksi adrenalin, para peserta juga diajak menonton kompilasi video kegiatan Nayottama. Patricia Anantha Agustin, selaku Ketua Pelaksana, menambahkan bahwa visualisasi ini penting agar mahasiswa baru punya gambaran nyata tentang apa yang dilakukan para penggiat alam ini, termasuk kegiatan sosialisasi yang selama ini telah dijalankan.

Bukan Hanya Soal Alam, Tapi Juga Sosial

Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan Inagurasi Mapala Nayottama sedang berdoa

Salah satu stigma yang ingin dipatahkan dalam pengenalan ini adalah bahwa Mapala hanya "main di hutan". Alifia Putri menegaskan bahwa Mapala Nayottama memiliki sisi humanis yang kuat.

"Kami ingin teman-teman paham bahwa kegiatan kami tidak hanya berfokus pada alam, kami juga sangat aktif di dunia sosial," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Samsudin yang bertindak sebagai pembawa acara. Menurutnya, sesi sapa akrab ini adalah wadah bagi mahasiswa baru untuk menyalurkan minat dan bakat mereka sejak dini.

Komitmen Menjadi Wadah Aspirasi
Lebih dari sekadar organisasi hobi, Mapala Nayottama berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anggotanya. Bagi mahasiswa baru yang bergabung, Nayottama menjanjikan:
  • Wadah Aspirasi: Tempat bertukar ide dan gagasan kreatif.
  • Pengalaman Terbaik: Menjelajahi keindahan alam sekaligus terjun langsung ke masyarakat.
  • Pengembangan Karakter: Melalui aksi pelestarian lingkungan dan sosial masyarakat.
__________________________________________________________________________

Siap Bergabung dengan Keluarga Nayottama?

Untuk kamu mahasiswa baru yang haus akan tantangan dan ingin memberikan dampak nyata bagi bumi serta sesama, pintu sekretariat kami selalu terbuka. Mari ukir cerita, temukan keluarga, dan dapatkan pengalaman terbaikmu di sini!

Sampai jumpa di pengembaraan selanjutnya! 🌿

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur
Foto : Anggota Mapala Nayottama di Puncak Gunung Penanggungan
Mojokerto, 23 Agustus 2025 - Gunung Penanggungan, atau yang secara historis dikenal sebagai Puncak Pawitra, kembali menjadi saksi bisu ketangguhan para anggota Mapala Nayottama. Bukan sekadar pendakian biasa, perjalanan kali ini merupakan bagian dari program kerja strategis untuk mengasah aspek teknis dan mental para anggota.

Perjalanan Dimulai: Dari Sekretariat Hingga Basecamp

Semangat dimulai sejak titik kumpul di Sekretariat Mapala Nayottama. Tepat pukul 19.00 WIB, tim berangkat meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju arah Mojokerto.

Dalam perjalanan, tim menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di Jombang. Momen ini dimanfaatkan untuk melakukan pengecekan ulang perlengkapan serta melengkapi logistik tambahan. Setelah makan malam dan memastikan energi terisi penuh, perjalanan dilanjutkan. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam hingga akhirnya tim tiba di Basecamp Tamiajeng, titik awal pendakian.

Lebih dari Sekadar Mendaki: Uji Survival dan Kerjasama Tim

Pendakian ini dirancang dengan tujuan yang jelas:
Pembentukan Kerjasama Tim: Medan pendakian menjadi laboratorium nyata untuk menguji solidaritas dan koordinasi antar anggota.
Penerapan Materi Survival: Para anggota ditantang untuk mempraktikkan materi manajemen perjalanan dan ketahanan diri di alam bebas.
Refleksi Spiritual: Mengagumi keagungan ciptaan Tuhan melalui bentang alam yang memukau.

 

Sebuah Pelajaran Tentang Syukur

Mendaki gunung selalu memberikan perspektif baru tentang kehidupan. Di antara tanjakan terjal dan udara pegunungan yang menusuk tulang, terselip rasa haru dan syukur yang mendalam.
"Dengan pendakian ini, kami diingatkan kembali untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Masih diberi kesempatan untuk hidup, melangkah, dan menghirup udara yang begitu sejuk dan murni di puncak sana."

 

Penutup

Pendakian ke Gunung Penanggungan ini membuktikan bahwa menjadi seorang pencinta alam bukan hanya soal sampai di puncak, melainkan tentang proses pendewasaan diri, pemantapan ilmu kepencintaalaman, dan menjaga ikatan persaudaraan di bawah langit yang sama.

***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur


Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan Sosialisasi Anti Bullying bersama Murid Murid dan Guru SDN 1 Janti Wates - 16 Agustus, 2025
Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan Sosialisasi Anti Bullying bersama Murid Murid dan Guru SDN 1 Janti Wates

Kediri, 16 Agustus 2025 — Menjelang hari kemerdekaan, Mapala Nayottama membawa semangat kemerdekaan yang berbeda: kemerdekaan bagi anak-anak untuk belajar tanpa rasa takut. Pada Sabtu (16/08), tim Mapala Nayottama menyambangi SDN 1 Janti Wates untuk menggelar sosialisasi anti-bullying yang diikuti dengan antusias oleh para siswa.

Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan respon cepat terhadap maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang kian mengkhawatirkan.

Bullying Bukan Hal Remeh

Ketua Pelaksana kegiatan, Alifia Putri Nabila, menegaskan bahwa dampak dari bullying bisa merusak masa depan seorang anak secara perlahan namun pasti.

"Kami menganggap bullying itu bukan hal remeh. Dampaknya sangat nyata; siswa bisa menjadi malas sekolah hingga kehilangan rasa percaya diri. Ini harus ditangani secara serius," ujar Alifia.

Mengajak Siswa "Bercerita" Lewat Permainan

Alih-alih memberikan ceramah yang membosankan, Mapala Nayottama menggunakan pendekatan yang ramah anak. Melalui presentasi visual dan Game Kerjasama, para siswa diajak untuk memahami arti kekeluargaan dan pentingnya saling menghargai.

Ketua Umum Mapala Nayottama, Fiki Obrian Atma, menjelaskan bahwa tujuan utama dari penyuluhan ini adalah agar siswa mampu mengenali berbagai macam jenis bullying dan memiliki keberanian untuk melapor.

"Kami ingin mengajak para siswa-siswi untuk mau bercerita. Kami prihatin dengan berita-berita bullying belakangan ini, maka dari itu kami hadir untuk mengenalkan mereka pada macam-macam bentuk perundungan agar mereka bisa waspada," jelas Fiki.

Komitmen "Berani Bicara, Berani Melindungi"

Foto : Alifia Putri Nabila, Selaku Ketua Pelaksana (kanan) menyerahkan Sertifikat Kegiatan kepada Perwakilan Guru (Kiri)

Dengan mengusung tema "Berani Bicara, Berani Melindungi", Mapala Nayottama menegaskan bahwa peran mereka tidak hanya terbatas di gunung atau hutan, tetapi juga di tengah isu sosial masyarakat.

Mapala Nayottama berkomitmen menyediakan ruang aman bagi para siswa yang ingin berbagi cerita atau mengadukan kendala terkait bullying melalui kanal resmi mereka:

  • Instagram/Facebook: @MapalaNayottama (Direct Message)
  • Email: mapala.nayottama@gmail.com

Mendukung Indonesia Emas 2045

Langkah ini merupakan bagian dari visi besar Mapala Nayottama dalam mendukung Program Indonesia Emas. Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman adalah pondasi utama untuk mencetak generasi yang berkualitas dan berkarakter.

"Semoga kegiatan ini menjadi perhatian khusus bagi kami di luar dunia kepencintaalaman dan membawa manfaat nyata bagi semua pihak," pungkas Fiki.
Mari kita bersama-sama menciptakan sekolah yang bebas dari ketakutan. Karena setiap anak berhak untuk tumbuh dengan bahagia!
***


Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur

Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan Sosialisasi Pengenalan Sampah bersama Kominitas Laskar Pelajar
 
Kediri, 22 Juli 2025 — Masalah sampah bukan lagi sekadar urusan "buang pada tempatnya," melainkan tentang bagaimana kita mengelolanya sebelum menjadi bencana. Menanggapi isu pencemaran lingkungan yang kian marak, Mapala Nayottama bersinergi dengan Laskar Pengajar menggelar sosialisasi intensif mengenai pemilahan sampah organik dan non-organik pada Sabtu (22/06/2025) lalu.

Kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas keprihatinan terhadap ancaman banjir dan kerusakan ekosistem yang seringkali berakar dari kelalaian kecil dalam membuang sampah.

Bukan Sekadar Teori, Tapi Praktik Langsung

Sosialisasi yang digelar tidak hanya berisi pemaparan materi, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif melalui demonstrasi praktis. Peserta diajak untuk:
  • Mengenal Perbedaan: Memahami karakter sampah organik (sisa makanan, daun) vs non-organik (plastik, kaleng).
  • Praktik Kompos: Demonstrasi mengubah sampah dapur menjadi pupuk organik yang bermanfaat.
  • Upcycling: Menyulap sampah non-organik menjadi kerajinan tangan bernilai guna.
"Membuang sampah sembarangan bisa mengakibatkan bencana alam yang merugikan kita semua. Solusinya dimulai dari rumah: membuang sampah pada tempatnya dan mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai," tegas Dita Pramudika, selaku Ketua Pelaksana.

5 Alasan Mengapa Pemilahan Sampah Itu Vital

Ketua Umum Mapala Nayottama, Fiki Obrian Atma, menjabarkan visi besar di balik kegiatan ini. Menurutnya, pemilahan sampah memiliki dampak berantai yang positif:
  • Meningkatkan Kesadaran: Mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi mencampur sampah sejak dari dapur.
  • Mengurangi Pencemaran: Mencegah bau tak sedap dan pencemaran tanah serta air di TPA.
  • Mendorong Gaya Hidup 3R: Menumbuhkan kebiasaan Reduce, Reuse, dan Recycle dalam kehidupan sehari-hari.
  • Membangun Kepedulian Sosial: Menciptakan semangat gotong royong demi lingkungan yang lebih sehat.
  • Investasi Masa Depan: Mengedukasi generasi muda agar tumbuh dengan karakter peduli lingkungan.

Ubah Limbah Jadi Manfaat

Dalam sesi tanya jawab yang interaktif, tim Nayottama menekankan bahwa sampah sebenarnya bisa menjadi sumber manfaat jika dikelola dengan benar. Sampah organik bisa kembali ke alam sebagai pupuk, sementara sampah non-organik bisa masuk ke siklus daur ulang agar tidak menumpuk di laut atau hutan.


Punya Kendala dalam Mendaur Ulang?

Mapala Nayottama membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi atau berbagi kendala seputar pengelolaan sampah. Kamu bisa menghubungi:
  • Instagram/Facebook: @MapalaNayottama (Direct Message)
  • Email: mapala.nayottama@gmail.com
***

Mari Mulai Dari Sekarang!

Memilah sampah adalah langkah kecil dengan dampak yang raksasa. Mari kita biasakan memilah sampah organik dan non-organik demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari bagi anak cucu kita.


***

Scriptwriter : Serayu
Editor : Katur

Foto : Panitia Pelaksana Kegiatan sedang mengisi materi
Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

POPULAR POSTS

  • NONTON BARENG (NOBAR) DAN DISKUSI FILM " PESTA BABI"
  • SEMANGAT "PAWYATAN DAHA" DI MATA SISWA : AKSI MAPALA NAYOTTAMA DALAM PROGRAM SEKOLAH BERKELANJUTAN
  • TASYAKURAN ANGKATAN KALPATARU : SIMBOL RASA SYUKUR DAN LAHIRNYA GENERASI BARU MAPALA NAYOTTAMA
  • RAMADHAN BERBAGI : MAPALA NAYOTTAMA TEBARKAN KEBAIKAN DI DEPAN KAMPUS UPD
  • NAYOTTAMA TUNTASKAN DIKLATSAR KE V: DARI TEORI RUANG HINGGA GEMBLENGAN FISIK DI GUNUNG WILIS
  • BERANI BICARA, BERANI MELINDUNGI : MAPALA NAYOTTAMA LAWAN BULLYING DI SDN 1 JANTI WATES
  • SAMPAH JADI BERKAH : KOLABORASI MAPALA NAYOTTAMA & LASKAR PENGAJAR HIJAUKAN KEDIRI
  • KENAPA SIH SOCIAL MEDIA KITA ISINYA "UNGU" SEMUA??
  • DIES NATALIS UNIVERSITAS PAWYATAN DAHA KEDIRI KE 49 THN
  • 4 TAHUN MAPALA NAYOTTAMA : REFLEKSI MILESTONE KECIL MENUJU MIMPI BESAR

Categories

  • Delegasi
  • Kenal Nayottama
  • Mapala Nayottama
  • Nayottama Sosialisasi
  • Program Kerja

Advertisement

Follow us on Facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

About Me


I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out. Great things in business are never done by one person. They’re done by a team of people.

Popular Posts

  • NONTON BARENG (NOBAR) DAN DISKUSI FILM " PESTA BABI"
  • SEMANGAT "PAWYATAN DAHA" DI MATA SISWA : AKSI MAPALA NAYOTTAMA DALAM PROGRAM SEKOLAH BERKELANJUTAN
  • TASYAKURAN ANGKATAN KALPATARU : SIMBOL RASA SYUKUR DAN LAHIRNYA GENERASI BARU MAPALA NAYOTTAMA

Advertisement

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates